Potensi Ekonomi AI di Indonesia Capai Rp 66 Triliun
Kecerdasan buatan (AI) sering dianggap sebagai perubahan besar yang mengubah banyak aspek kehidupan dan industri, tapi sebenarnya potensinya sangat besar dan menjanjikan. Penggunaan dan adopsi teknologi AI dalam ekonomi digital diperkirakan bisa menghasilkan nilai ekonomi besar, hingga Rp 66 triliun. Potensi ini membuka peluang besar untuk inovasi dan pertumbuhan di berbagai sektor ekonomi secara signifikan.
Adrian Suharto, Director Asia Pacific Robertsbridge (Public First), mengatakan bahwa Indonesia memiliki cerita pertumbuhan ekonomi digital yang sangat besar dan penting. Ia mengatakan bahwa perkembangan ini menunjukkan peluang besar dalam transformasi digital dan dampak positif untuk berbagai sektor di Indonesia.
Langkah Krusial Menuju Kemajuan
Kita lihat bahwa babak selanjutnya akan menjadi sangat krusial dan benar-benar menentukan arah masa depan kita. Pada tahap ini, penting untuk memanfaatkan setiap peluang dengan strategi yang tepat dan inovasi terus-menerus. Jadi, kita tidak hanya bisa melewati negara-negara menengah, tapi juga bisa mencapai kemajuan yang lebih tinggi dan melampaui batas yang kita pikir sebelumnya.
Dari total sekitar Rp 66 triliun yang berasal dari sektor ekonomi kreatif yang berbasis pada teknologi kecerdasan buatan (AI). Sekitar Rp 48 triliun berasal dari pekerjaan kreatif yang dilakukan rutin setiap hari oleh para pelaku industri tersebut.
Misalnya, kita yang bekerja di media sosial, perusahaan desain, atau produksi sehari-hari. Media ini membuat pekerjaan lebih cepat, tepat waktu, dan menjangkau lebih banyak audiens. Sedangkan untuk profesional AI, pertumbuhannya mencapai Rp 12 triliun, jelas Adrian.
Tak cuma itu, potensi ini juga kian besar jika melihat celah ekspor yang dapat dilakukan Indonesia.
“Potensi ekspor kita bisa mencapai sekitar Rp 6,7 triliun berdasarkan perhitungan, karena banyak konten Indonesia yang bagus dan bermanfaat,” tambahnya.
Ekspansi Global Konten dengan AI

Proses pembuatan dan pelokalan dengan teknologi AI bisa menghasilkan pendapatan hingga USD 410 juta setiap tahun, memberikan keuntungan besar bagi para kreator konten. Dengan bantuan AI, kreator bisa menjangkau audiens di seluruh dunia dengan lebih cepat dan mudah. Serta menyesuaikan konten agar cocok dengan kebutuhan dan selera pasar luar negeri yang beragam. Hal ini memungkinkan ekspansi pasar yang lebih luas dan peluang pertumbuhan yang signifikan dalam industri kreatif.
Dengan mengotomatiskan sekaligus menskalakan proses pembuatan subtitle, sulih suara, penerjemahan, serta adaptasi format konten. Teknologi AI mempermudah dan mempercepat ekspor konten dari Indonesia ke berbagai pasar internasional secara signifikan. Proses yang sebelumnya memakan waktu lama kini bisa dilakukan dengan lebih efisien dan dalam skala besar berkat kecanggihan AI.
Data menunjukkan bahwa Indonesia punya basis domestik yang kuat dengan 1,2 miliar unduhan aplikasi di dalam negeri. Selain itu, unduhan aplikasi dari luar negeri juga cukup besar, mencapai sekitar 36% dari total unduhan aplikasi di Indonesia. Pasar luar negeri menghasilkan pendapatan sebesar Rp 400 miliar atau 110% dari pendapatan dalam negeri yang sebesar Rp 370 miliar.
Selain itu, pendapatan per unduhan di pasar luar negeri juga lebih tinggi, yaitu 1,9 kali dibandingkan dengan pasar dalam negeri. Pendapatannya Rp 580 miliar untuk pasar luar negeri dan Rp 300 miliar untuk pasar dalam negeri. Hal ini secara jelas menunjukkan potensi besar untuk pertumbuhan ekspor yang dapat dicapai melalui adaptasi lokal yang berbasis pada teknologi kecerdasan buatan (AI).