IHSG Anjlok 3,49% ke Level 5.098
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada penutupan perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, setelah tekanan jual mendominasi pergerakan pasar. IHSG anjlok 184,255 poin atau 3,49 persen hingga berakhir di level 5.098,057, memperpanjang tekanan pada pasar saham domestik. Koreksi tajam tersebut menempatkan indeks jauh di bawah pembukaan pagi, sekaligus menunjukkan dominasi aksi jual sepanjang sesi perdagangan. Pelaku pasar menyaksikan pelemahan luas, ketika ratusan saham kehilangan nilai dan hampir seluruh sektor bergerak serempak ke zona merah.
Mengutip data RTI, transaksi mencapai 23,278 miliar lembar saham dengan nilai perdagangan sebesar Rp11,296 triliun sepanjang hari. Dari keseluruhan saham yang dipantau, hanya 98 emiten menguat, sedangkan 624 saham melemah dan 70 lainnya stagnan. Kontras antara saham penguat dan pelemah itu memperlihatkan tekanan jual melampaui minat beli dalam aktivitas bursa hari ini.
IHSG Anjlok Setelah Gagal Bertahan di Atas 5.300
Pada awal sesi, IHSG dibuka pada 5.305,198 dan sempat naik ke puncak intraday 5.320,895 sebelum berbalik melemah. Tekanan kemudian mengikis penguatan awal secara bertahap, menyeret indeks menuju 5.098,057 yang sekaligus menjadi titik terendah harian. Jarak antara level pembukaan dan penutupan menggarisbawahi perubahan sentimen yang kuat selama perdagangan berlangsung di Bursa Efek Indonesia. Dengan koreksi sebesar 3,49 persen, indeks menutup sesi pada batas bawah rentang pergerakannya, menandai rapuhnya permintaan saham.
Tekanan Menyebar ke Seluruh Sektor
Sebanyak 11 sektor berakhir melemah, memperlihatkan bahwa tekanan tidak terkonsentrasi pada satu kelompok industri saja. Sektor industri mencatat koreksi terdalam sebesar 4,64 persen, disusul Basic-IND yang turun 4,53 persen sepanjang perdagangan. Sementara itu, sektor infrastruktur melemah 4,24 persen, menambah tekanan pada indeks yang telah tertekan oleh aksi jual.
Saham Terpilih Masih Menguat di Tengah Koreksi
Di tengah pelemahan mayoritas saham, sejumlah emiten tetap mencatat kenaikan dan mengisi daftar penguatan terbesar pada sesi ini. ALKA, YPAS, TMAS, KJEN, dan MKNT masuk jajaran top gainers, menjadi pengecualian ketika tekanan membayangi hampir seluruh pasar. Sebaliknya, IDEA, SOFA, MEJA, LMAX, dan SPRE tercatat sebagai top losers yang mengalami pelemahan terbesar pada perdagangan. Perbedaan arah di antara saham individual menegaskan bahwa kenaikan terbatas belum mampu membendung pelemahan pasar secara keseluruhan.
IHSG Anjlok Saat Bursa Asia Bergerak Beragam
Di kawasan regional, pergerakan indeks Asia berlangsung beragam, tetapi mayoritas acuan utama turut mencatat koreksi pada sore hari. Nikkei menjadi pengecualian dengan kenaikan 705,28 poin atau 1,10 persen, sehingga indeks Jepang tersebut berakhir di 64.659,47. Sebaliknya, Hang Seng kehilangan 136,18 poin atau 0,59 persen hingga berakhir di posisi 22.958,65 pada penutupan perdagangan.
Shanghai dan Strait Times Turut Melemah
Indeks Shanghai turun 30,04 poin atau 0,82 persen ke level 3.651,43, memperlihatkan tekanan juga menjalar ke pasar Tiongkok. Strait Times Singapura terkoreksi 1,88 poin atau 0,03 persen, kemudian menetap di posisi 5.396,03 saat penutupan. Kinerja regional yang tidak seragam menunjukkan bahwa penguatan Nikkei belum cukup mengimbangi kehati-hatian investor di kawasan.
Koreksi Tajam Menjadi Sinyal Kehati-hatian
Bagi pelaku pasar, penutupan di titik terendah harian menjadi sinyal kuat bahwa tekanan jual masih mendominasi transaksi. Pelemahan 624 saham sekaligus menggambarkan sebaran koreksi yang luas, bukan sekadar penurunan indeks akibat beberapa emiten. Meski beberapa saham mencetak penguatan, kontribusinya belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari mayoritas saham yang terkoreksi. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada perubahan minat beli, stabilitas sentimen, serta kemampuan indeks menemukan pijakan setelah penurunan tajam.
Untuk sementara, data penutupan Kamis menegaskan IHSG anjlok tajam, dengan seluruh 11 sektor berakhir melemah. Investor kini akan mencermati arus transaksi dan pergerakan saham berkapitalisasi besar guna menilai apakah tekanan berlanjut. Arah sesi berikutnya menjadi penting untuk mengukur daya tahan pasar setelah koreksi dalam dan dominasi saham yang melemah.