IHSG Melemah 1,22% di Tengah Tekanan Global
IHSG melemah 1,22 persen pada penutupan Senin, 26 Oktober 2026, ketika investor menimbang inflasi dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu kehilangan 66,17 poin sehingga berakhir pada 5.373,09, sedangkan LQ45 terkoreksi 0,89 persen. Tekanan tersebut muncul saat pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve pekan ini. Pergerakan itu memperlihatkan betapa sensitifnya aset domestik terhadap perubahan ekspektasi global, terutama ketika ketidakpastian geopolitik ikut meningkat.
Sepanjang hari, IHSG sempat dibuka menguat, tetapi berbalik ke zona negatif sebelum sesi pertama berakhir dan bertahan hingga penutupan. Saat IHSG melemah, investor semakin berhati-hati menghadapi kombinasi harga energi tinggi, tekanan inflasi, dan prospek biaya pinjaman global. Indeks sektoral IDX-IC juga kompak memerah, menegaskan koreksi meluas melampaui sejumlah saham berkapitalisasi besar yang biasanya menopang pergerakan indeks utama.
IHSG Melemah di Tengah Sentimen Global
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai inflasi dan minyak menjadi perhatian utama pasar. Harga minyak mentah di atas USD110 per barel memperbesar kecemasan terhadap biaya energi, ekspektasi inflasi, dan suku bunga. Ketegangan Timur Tengah turut menambah premi risiko, sebab potensi serangan balasan dapat memperluas konflik serta mengganggu pasokan energi.
“IHSG dan Bursa Asia bergerak melemah di tengah kekhawatiran atas inflasi dan harga minyak yang tinggi,” ujar Nico.
Geopolitik Memperbesar Premi Risiko
Donald Trump mempertimbangkan kesepakatan dengan Iran atau melanjutkan serangan militer setelah pemilihan paruh waktu pekan depan, di tengah ancaman regional. Teheran menyiapkan kemungkinan balasan yang dapat menyasar Israel dan Uni Emirat Arab di kawasan tersebut. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar memperhitungkan risiko gangguan pasokan, bukan sekadar memantau negosiasi diplomatik kedua negara.
Agenda FOMC dan Beban Fiskal Domestik
Investor kini menunggu rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 27–28 Oktober 2026, sesuai kalender resmi Federal Reserve. Pasar memperkirakan bank sentral Amerika mempertahankan suku bunga acuan, tetapi panduan setelah rapat tetap berpotensi menggerakkan aset berisiko. Pada saat bersamaan, lonjakan harga minyak menambah kerentanan fiskal Indonesia karena kebutuhan impor dapat memperbesar subsidi energi dalam APBN. Tekanan itu penting dicermati, lantaran biaya subsidi yang membengkak dapat mempersempit ruang belanja pemerintah untuk prioritas lainnya.
IHSG Melemah saat Investor Menunggu Sinyal Beijing
Di Asia, pelaku pasar juga mencermati Sidang Pleno ke-5 Partai Komunis Tiongkok yang berlangsung di Beijing pada 26–29 Oktober 2026. Investor mengamati pertemuan Xi Jinping dan jajaran pimpinan senior guna membaca prioritas ekonomi serta arah kebijakan Beijing berikutnya. Ketidakjelasan agenda pertumbuhan dan kepemimpinan dapat memengaruhi selera risiko investor regional, meski hasil pertemuan belum sepenuhnya terungkap.
Sektor Saham Kompak Berada di Zona Merah
Sepanjang transaksi, 11 sektor IDX-IC berakhir melemah, dengan energi turun 2,38 persen, bahan baku 1,63 persen, dan industri 1,60 persen. Namun, sejumlah saham tetap mencatat kenaikan, antara lain KREN, ANDI, TMPO, BTEK, dan MKNT, di tengah tekanan indeks. Sebaliknya, GRPM, SOFA, MGLV, VKTR, dan ARKO termasuk deretan saham dengan pelemahan terdalam pada perdagangan hari tersebut.
Transaksi Ramai, Bursa Asia Bergerak Beragam
Frekuensi transaksi mencapai 1,79 juta kali, dengan 36,12 miliar saham berpindah tangan dan nilai perdagangan Rp14,98 triliun. Data penutupan mencatat 174 saham menguat, 542 melemah, sedangkan 247 saham lainnya tidak berubah dari harga sebelumnya. Di kawasan regional, Nikkei turun 0,78 persen dan Kospi terkoreksi 1,46 persen, sementara Hang Seng serta Shanghai bergerak positif. Straits Times melemah 0,12 persen, menutup perdagangan Asia dengan arah beragam ketika investor mempertimbangkan risiko inflasi, energi, dan kebijakan moneter.
Kombinasi ketidakpastian geopolitik, biaya energi, dan keputusan bank sentral masih menjadi katalis utama bagi pergerakan saham jangka pendek. Investor kemungkinan tetap menakar sinyal kebijakan sebelum menambah eksposur, terutama ketika risiko fiskal dan inflasi belum mereda. Arah selanjutnya akan bergantung pada keputusan The Fed, dinamika harga minyak, serta perkembangan geopolitik yang membentuk sentimen lintas pasar.