Home Berita Crypto Harga Bitcoin Anjlok ke US$86.000: Ini Penyebab Utama Kejatuhannya

Harga Bitcoin Anjlok ke US$86.000: Ini Penyebab Utama Kejatuhannya

Dalam beberapa hari terakhir, pasar kripto kembali diguncang oleh penurunan tajam harga Bitcoin. Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi pada awal tahun, Bitcoin kini anjlok ke sekitar US$86.000, menyentuh level terendahnya dalam beberapa bulan terakhir. Kejatuhan ini mengejutkan banyak investor, terutama karena terjadi dalam waktu singkat dan diikuti aksi jual besar-besaran di berbagai platform perdagangan.

Penurunan mendadak ini bukan hanya dipicu oleh satu faktor, tetapi merupakan kombinasi kompleks antara tekanan makroekonomi global, perubahan kebijakan moneter, hingga sentimen pasar yang melemah. Kondisi tersebut membuat pasar kripto kembali menunjukkan sifat aslinya: sangat volatil dan sensitif terhadap gejolak ekonomi dunia.

Penurunan Harga Bitcoin: Apa yang Terjadi?

Informasi pasar saham untuk Bitcoin (BTC)

  • Bitcoin adalah crypto di pasar CRYPTO.
  • Harga saat ini adalah 84191.0 USDdengan perubahan 1350.00 USD (0.02%) dari penutupan sebelumnya.
  • Tertinggi intraday adalah 85429.0 USD dan terendah intraday adalah 80763.0 USD.

Harga Bitcoin jatuh di bawah zona US$86.000, yang merupakan level terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Beberapa poin kunci:

  • Bitcoin sempat meroket ke level di atas US$120.000–US$126.000 pada Oktober 2025, kemudian mengalami koreksi sekitar 20–30%.
  • Penurunan ini bukan hanya untuk Bitcoin saja, tetapi juga meluas ke seluruh pasar kripto, dengan kapitalisasi pasar yang menyusut secara signifikan.
  • Ada tekanan dari sisi teknikal, makro, serta likuiditas yang membuat penurunan terasa lebih tajam.

Penyebab Utama Penurunan

Beberapa faktor sekaligus mendorong Bitcoin ke posisi ini:

1. Sentimen Makroekonomi Negatif

  • Perubahan sikap dari Federal Reserve (The Fed) yang kembali menunjukkan Kingdom4D kecenderungan hawkish artinya, kemungkinan pemotongan suku bunga yang diharapkan pasar menjadi lebih kecil.
  • Karena suku bunga acuan yang tetap tinggi atau berpotensi naik, aset berisiko seperti kripto menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen yang dianggap lebih “aman”.

2. Likuidasi dan Penjualan Besar (Whales, Cetakan Besar)

  • Banyak posisi leveraged (kepemilikan dengan utang atau margin) yang harus dilikuidasi, terutama setelah level support krusial tembus.
  • Penjualan besar oleh “whales” (pemegang Bitcoin besar) telah meningkatkan tekanan jual dan menurunkan harga.

3. Tekanan Teknis dan Support Rusak

  • Saat Bitcoin gagal mempertahankan support kunci di sekitar US$90.000 dan bahkan US$92.000, maka hal ini memicu panik dan arus keluar modal.
  • Dengan support jebol, banyak trader otomatis terpaksa menjual, makin memperburuk turunannya.

4. Penurunan Arus Masuk dari Institusi & Dana Kripto

  • Permintaan institusional melambat. Misalnya, dana Exchange Traded Fund (ETF) kripto mengalami arus keluar, bukan masuk.
  • Minimnya pembelian baru bisa membuat pasar kekurangan “penopang” untuk harga.

5. Keganasan Eksternal dan Likuiditas Global

  • Ada faktor eksternal seperti tekanan pasar keuangan global, sistemik, dan pengaruh likuiditas yang menurun misalnya disebut dalam analisis keterkaitan dengan pasar Jepang dan peran “carry trade”.

Implikasi bagi Pasar dan Investor

  • Penurunan harga Bitcoin menunjukkan bahwa aset kripto masih sangat rentan terhadap faktor eksternal makro dan likuiditas, bukan hanya adopsi atau teknologi blockchain.
  • Aset-aset terkait kripto, seperti saham perusahaan besar yang memegang Bitcoin (contoh: MicroStrategy) ikut terdampak.
  • Ini bisa menjadi momen koreksi pasar yang sehat bagi sebagian investor, menurunnya harga bisa menjadi “peluang” (dengan risiko tetap tinggi).
  • Namun, bagi trader yang menggunakan leverage, kejatuhan ini berpotensi memicu kerugian besar atau likuidasi paksa.

Apa yang Harus Dilakukan oleh Investor?

Beberapa saran dan perhatian untuk investor dalam situasi seperti ini:

  • Pastikan Anda memahami profil risiko Anda: investasi kripto tetap sangat volatil.
  • Hindari keputusan emosional seperti “panic selling” atau “chasing price” ketika naik.
  • Pertimbangkan strategi seperti dollar-cost averaging (membeli secara berkala dengan jumlah tetap) jika Anda yakin jangka panjangnya.
  • Monitor faktor makro dan teknikal: suku bunga, data ekonomi, likuiditas global, support/resistance Bitcoin.
  • Pertahankan diversifikasi jangan menaruh seluruh portofolio hanya di satu aset kripto atau satu aset berisiko tinggi.

Kesimpulan

Penurunan harga Bitcoin ke sekitar US$86.000 adalah hasil dari kombinasi sejumlah faktor: mulai dari perubahan kebijakan moneter, likuidasi besar posisi leveraged, arus keluar institusional, hingga tekanan teknis dan kondisi likuiditas global.

Meskipun ini bisa menjadi sinyal kehati-hatian bagi investor, bukan berarti Bitcoin “mati” atau tidak memiliki potensi lagi melainkan mengingatkan bahwa pasar kripto tetap sangat rentan. Bagi investor jangka panjang yang memahami risiko, penurunan ini mungkin menawarkan peluang namun tetap dengan catatan “investasi ini bukan tanpa risiko”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*